A.
Gambaran
Umum Usaha Kerajinan Sandal Sepatu di Kabupaten Bogor
Industri UKM
sepatu-sandal pada umumnya menghasilkan sepatu-sandal dari bahan
imitasi.Sebelumnya industri UKM sepatu ini menghasilkan sepatu kulit, tetapi
karena tingginya permintaanterhadap bahan imitasi yang
lebih lunak, maka industri UKM sepatu-sandal di Kecamatan Ciomaslebih banyak
menggunakan bahan imitasi. Sepatu-sandal yang dihasilkan industri ini
bermacammacamukurannya, mulai dari yang kecil sampai yang besar untuk pria dan
wanita. Sejak enamtahun terakhir ini sepatu dan sandal wanita merupakan produk
yang paling banyak diminati danpaling banyak permintaannya, karena sesuai
dengan perkembangan mode. Pada saat musimramai, menjelang Lebaran dan Natal
seluruh bengkel sibuk menerima pesanan sepatu dan sandaldari konsumen (Grosir),
dan biasanya pekerjaan dapat berlangsung dari pagi sampai larut malam,sedangkan
bila tidak sedang ramai pekerjaan berlangsung dari pukul 08.00–16.00
petang.Dimusim-musim sepi, industri sepatu mengurangi tenaga kerjanya dan
buruh-buruh mencaripekerjaan lain di sekitar daerah ciomas. Sistem upah yang
berlaku didasarkan pada sistemborongan, dimana buruh dibayar berdasarkan jumlah
sepatu yang dihasilkan (per kodi sepatu).Upah buruh bervariasi berdasarkan
tingkat kesulitan pembuatan sepatu.Para pengusaha UKM sepatu di daerah Ciomas
sebagian besar tidak memiliki sistempencatatan dan pembukuan yang jelas, sehingga
mereka tidak tahu secara pasti apakah merekamemperoleh untung atau mengalami
kerugian. Industri kerajinan sepatu di Kecamatan CiomasKabupaten Bogor umumnya
menghasilkan sepatu dan sandal dengan semua ukuran baik untukpria maupun untuk
wanita. Bahan baku yang digunakan untuk membuat sepatu dan sandal adalahkulit
imitasi serta bahan lain yang digunakan yaitu lapis (AC), lateks, sol, tamsin,
spon, hak, lem,tekson, dus, pengeras, pur Ce, benang, dll.Bahan-bahan ini
diperoleh dari toko bahan di kota Bogor. Bagi pengusaha yang memilikimodal
cukup, maka bahan baku dapat mereka peroleh sesuai dengan harga pasar,
sedangkan9pengusaha yang lemah dalam hal permodalan, maka bahan baku mereka
peroleh dengan modalkepercayaan dan kesepakatan dengan pihak Grosir, dengan
sistem hubungan sub kontrakkomersial atau sering disebut ”bon putih”.
Selain sistem bon putih pembelian bahan baku juga biasa diberikan dengan sitem
giro dengan tempo waktu satu bulan sampai dengan dua bulan,namun dengan
menggunakan kedua sistem ini pengusaha sepatu akan sangat banyakmemperoleh (charge)
dan harga yang berlaku pun bukan lagi harga pasar, sehingga mereka akansangat
dirugikan.Dengan kedua sistem ini pengusaha diminta untuk memproduksi sepatu
sesuai denganmodel atau tipe yang ditentukan oleh pihak Grosir. Modal awal
untuk mendapatkan bahan bakudiberikan oleh pihak Grosir berupa selembar bon
putih atau selembar giro dengan cap/identitasGrosir untuk dibelanjakan pada
toko bahan yang telah ditentukan, dengan jumlah pesanan untuksatu minggu. Pemberian
bon putih atau giro ini dihitung sebagai uang muka dari total pembayaran,yaitu
sekitar 50 sampai 60 persen. Selanjutnya pengusaha akan memproduksi di bengkel
miliknyadengan melibatkan tenaga kerja. Pada saat pengiriman barang, pihak
grosir akan memberikansejumlah uang untuk membayar tenaga kerja, dengan
memperhitungkan modal awal yang telahdiambil melalui bon putih atau giro,
sisanya dibayar dengan menggunakan giro berjangka waktusatu atau dua bulan yang
dapat ditukarkan dengan uang tetapi dengan potongan tertentu. Dengandemikian
pengrajin/tenaga kerja juga akan bergantung pada jumlah pesanan yang diterima
daripihak grosir.
B.
Pendahuluan
Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) mempunyai peran yang cukup besar dalampembangunan ekonomi
nasional, hal ini terlihat dari kontribusinyaterhadap Produk Domestik Bruto
(PDB) Indonesia yang terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan hasil survei
dan perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi UKM terhadap PDB (tanpa
migas) pada Tahun 1997 tercatat sebesar 62,71 persen dan pada Tahun 2002
kontribusinya meningkat menjadi 63,89 persen. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS) pada 2008 menunjukkan, sektor UKM dapat menyerap tenaga kerja
sebanyak 91 juta orang (97,3 persen) dan mampu menyumbang PDB Rp 2.121,31 triliun
(53,6 persen). Sumbangan UMKM terhadap ekspor Indonesia juga tidak disangsikan
lagi, mencapai Rp 142,8 triliun (20,02 persen) dengan total nilai investasi Rp
462 triliun (47 persen) pada 2007.
Tidak bisa
dibantah bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peranan yang
sangat penting dalam perekonomian Nasional. Diharapkan peranan pemerintah
maupun masyarakat perlu memberikan perhatian yang besar untuk mendorong
pengembangannya. Pengembangan UKM melalui pendekatan pemberdayaan usaha, perlu
memperhatikan aspek sosial dan budaya di masing-masing daerah, mengingat usaha
kecil dan menengah pada umumnya tumbuh dari masyarakat secara langsung. Di
samping itu upaya pengembangan UKM dengan mensinergikannya dengan industri
besarmelalui pola kemitraan, juga akan memperkuat struktur ekonomi baik
nasional maupun daerah.
Partisipasi pihak
terkait atau stakeholders perlu terus ditumbuhkembangkan lainnya agar
UKMbetul-betul mampu berkiprah lebih besar lagi dalam perekonomian
nasional.Namun di tengah upaya pengembangan yang dilakukan pemerintah tersebut,
mayoritasUKM berada pada kondisi yang tidak ideal, dimana UKM tidak mengalami
perkembangan yang
signifikan dan tidak jauh berbeda kondisinya
ketika awal didirikan. Hanya sedikit saja UKM yang mampu berkembang menjadi
usaha besar. Hal itu disebabkan UKM masih memiliki kelemahan dan kendala.
C.
Rumusan Masalah
Memperhatikan latar
belakang tersebut, penulis mencoba mencoba merumuskan permasalahan :
a) Bagaimana penerapan strategi pemasaran yang
telah dilakukan oleh para Pengrajin Sepatu Sandal di daerah Ciomas Kabupaten
Bogor
b) Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Hambatan yang
secara riil dimiliki dan dihadapi oleh para Pengrajin Sepatu Sandal Ciomas Kabupaten
Bogor tersebut serta
c) Strategi Pemasaran seperti apa yang memungkinkan
untuk diterapkan dan meningkatkan omzet penjualan produk para Pengrajin Sepatu
Sandal Ciomas Kabupaten Bogor.
D.
Analisis
faktor internal
yang menjadi Faktor Kekuatan
paraPengrajin Sepatu Sandal Ciomas Bogor adalah
a) Produk berkualitas
b) Harga Bersaing
c) Sepatu yang dihasilkan unik dan Kreatif.
FaktorKelemahan adalah
a) Manajemen Keuangan tidak teratur
b) Manajemen Persediaan Bahan Baku tidak teratur
c) Pengawasan proses produksi dan kualitas kurang
d) Tempat bekerja kurang nyaman
e) Teknologi minimal
f) Perhitungan harga pokok produksi kurang
akurat.
Beberapa
faktoreksternal yang menjadi Faktor
Peluang yang bisa dimanfaatkan oleh para Pengrajin SepatuSandal Ciomas
Bogor adalah
a) Produk dikenal masyarakat
b) Ketersediaan sumber daya manusia
c) Lokasi dekat Pemasok
d) Memiliki sistem pemasaran terpusat
e) Tempat penjualan strategis
f) Memiliki banyak relasi.
Dengan
menggunakan Analisis SWOT Strategi
Pengembangan yang bisa dilakukan olehpara Pengrajin adalah
a) Peningkatan kreatifitas dalam membuat model
sepatu sandal, sehinggasemakin beraneka ragam bentuk dan modenya
b) Optimalisasi jaringan / saluran
pemasaranmelalui pembangunan kerjasama dengan sesama Pengrajin atau Pengusaha
dan Pemasar lainnya
c) Memperluas jaringan relasi pemasaran
d) Pemanfaatan website atau email sebagaisarana
promosi dan pemasaran (pengembangan E-Commerce)
e) Mengalokasikan dana darihasil penjualan untuk
meningkatkan teknologi produksi yang dipergunakan
f) Bekerjasama dalamrangka optimalisasi Koperasi
yang telah dibentuk sehingga mampu menyediakan bahan baku danmodal kerja serta
mampu mengkoordinir distribusi produk jadi.
g) Para Pengrajin bekerjasamauntuk membangun
kekuatan bersama sehingga bisa saling menutupi atau mengeliminirkelemahan.
Lalu selanjutnya
berdasarkan analisis EFAS dan IFAS, para Pengrajin
Sepatu SandalCiomas Bogor berada pada kuadran V. Dua strategi yang bisa
dilakukan pada posisi stabil adalahmelakukan kegiatan penetrasi pasar dan
langkah penyempurnaan strategi pengembanganproduknya untuk mempertahankan dan
memelihara kinerja yang sudah dicapai. Peningkatankreatifitas dalam pembuatan
sepatu sandal menjadi sangat diperlukan sehingga model sepatusandal yang
diproduksi lebih bervariasi. Keanekaragaman produk menjadi salah satu
strategidalam memikat minat dari para konsumen, sehingga diperoleh peningkatan
omzet penjualan. Disamping itu, penetrasi pasar harus dilakukan secara
intensif. Konsumen yang dihadapi oleh paraPengrajin adalah konsumen yang
sensitif akan harga. Strategi penetrasi pasar menjadi langkahterbaik untuk
menggaet konsumen dengan karakterisrik tersebut. Karena dalam langkah
tersebutakan dipergunakan strategi penetapan harga yang relatif terjangkau dan
menarik bagi konsumen.
mbak Nadia, kalau saya ingik kulakan tp modal saya kecil, saran mbak ke mana ya? pasar/grosir? kalau mau ke ciomas, gimana agkutan umum paling praktis, turun terminal bogor atau stasiun, posisi saya dari jawa tengah email ke pheeby@mail.com atau kalau boleh kontak ke 085747523781, sms ok, identifikasi dengan Nadia Ciomas yaa.. trims
BalasHapus